Perguruan tinggi memiliki peran penting membangun kembali mentalitas, moralitas, dan karakter sebuah bangsa. Kekerasan sosial yang menggunakan sentimen keagamaan dalam berbagai bentuk bukannya berkurang tetapi ada kecenderungan semakin menjadi - jadi. Ketika tulisan ini disusun oleh M. Amin Abdullah, media cetak dan elektronik di Tanah Air ramai - ramai mengangkat bom bunuh diri di tengah bangunan Masjid Adz-Dzikron, Markas Polresta Cirebon. Hal itu diikuti berita tertangkapnya 19 tersangka pelaku bom buku dan perencanaan bom Serpong yang akan menyasar Perusahaan Gas Negara dan Gereja Christ Cathedral, Serpong.
Apa yang keliru dalam hidup beragama?
Yang mengejutkan banyak pihak, ternyata sebagian dari pelaku bom buku dan perencana bom Serpong merupakan lulusan perguruan tinggi, bahkan diantaranya alumnus perguruan tinggi agama Islam. Wawancara Metro TV dengan orangtua pelaku pada Minggu, 17 April lalu, dapat kita jadikan sebagai rujukan mengapa kasus bom terjadi lagi. Pelaku menganut paham keagamaan yang menekankan ketidaksetujuannya hidup berdampingan dengan kelompok penganut aliran agama (Islam) yang berbeda. Bagaimana upaya para pemimpin perguruan tinggi agama Islam, baik UIN, IAIN maupun STAIN, menghadapi tantangan dan tuntutan mendesak ini?
Umat Islam sekarang ini adalah warga dunia. Zaman keemasan yang biasa disebut - sebut al-asr al-dzhahaby pada era dulu sudah lama lewat. Umat Islam begitu juga umat lain di dunia-Hindu, Buddha, Kristen, Konghucu-tidak punya pilihan lain. Mereka tidak dapat menyendiri, keluar dari pergaulan dunia kontemporer. tuhan telah menjadikan umat manusia berbangsa - bangsa dan bersuku - suku, berbeda antara satu dan yang lain, agar manusia dengan sesamanya dapat saling mengenal dan memahami. Mereka yang berpandangan ghetto tidak bersedia berkomunikasi dengan orang dan golongan lain, yang liyan. Apabila mereka yang berpandangan ghetto ini dibiarkan bertumbuh dan berkembang, niscaya akan lahir cikal bakal tindakan penuh emosi, tempat kemarahan dan sesak kebencian yang menjurus pada kekerasan.
Peran perguruan tinggi agama Islam
Perguruan tinggi agama Islam mempunyai peran besar dalam mengantarkan bangsa Indonesia sebagai warga dunia. Sedari dini generasi muda dan mahasiswa sudah perlu dilatih berpikir dan berkomunikasi menggunakan dua bahasa sekaligus.
Apa yang keliru dalam hidup beragama?
Yang mengejutkan banyak pihak, ternyata sebagian dari pelaku bom buku dan perencana bom Serpong merupakan lulusan perguruan tinggi, bahkan diantaranya alumnus perguruan tinggi agama Islam. Wawancara Metro TV dengan orangtua pelaku pada Minggu, 17 April lalu, dapat kita jadikan sebagai rujukan mengapa kasus bom terjadi lagi. Pelaku menganut paham keagamaan yang menekankan ketidaksetujuannya hidup berdampingan dengan kelompok penganut aliran agama (Islam) yang berbeda. Bagaimana upaya para pemimpin perguruan tinggi agama Islam, baik UIN, IAIN maupun STAIN, menghadapi tantangan dan tuntutan mendesak ini?
Umat Islam sekarang ini adalah warga dunia. Zaman keemasan yang biasa disebut - sebut al-asr al-dzhahaby pada era dulu sudah lama lewat. Umat Islam begitu juga umat lain di dunia-Hindu, Buddha, Kristen, Konghucu-tidak punya pilihan lain. Mereka tidak dapat menyendiri, keluar dari pergaulan dunia kontemporer. tuhan telah menjadikan umat manusia berbangsa - bangsa dan bersuku - suku, berbeda antara satu dan yang lain, agar manusia dengan sesamanya dapat saling mengenal dan memahami. Mereka yang berpandangan ghetto tidak bersedia berkomunikasi dengan orang dan golongan lain, yang liyan. Apabila mereka yang berpandangan ghetto ini dibiarkan bertumbuh dan berkembang, niscaya akan lahir cikal bakal tindakan penuh emosi, tempat kemarahan dan sesak kebencian yang menjurus pada kekerasan.
Peran perguruan tinggi agama Islam
Perguruan tinggi agama Islam mempunyai peran besar dalam mengantarkan bangsa Indonesia sebagai warga dunia. Sedari dini generasi muda dan mahasiswa sudah perlu dilatih berpikir dan berkomunikasi menggunakan dua bahasa sekaligus.
Sumber : e-paper, koran kompas hal 6
http://epaper.kompas.com/epaperkompas.php?v=1.0
Tidak ada komentar:
Posting Komentar